Alif Fikri adalah remaja kelahiran Banyur, Bukittinggi yang semasa
kecilnya hobi berburu durian runtuh bersama ayahnya dan bermain bola di
sawah berlumpur. Setelah lulus dari Madrasah ia ingin melanjutkan
pendidikannya ke SMA Bukittinggi. Tetapi idenya justru bertentangan
dengan pendapat amaknya yang menginginkan Alif untuk tetap bersekolah di sekolah agama. Alif bimbang.
Surat pun datang dari Pak Etek Gindo, paman Alif. Dia menyarankan Alif
untuk mencoba bersekolah agama di tempat yang dulunya pernah menjadi
tempat sekolah bagi Pak Etek Gindo. Tetapi Alif masih sangat asing
dengan tempat itu. Dengan setengah Alif daintarkan oleh ayahnya pergi ke
pulau seberang untuk belajar di Pondok Madani, Jawa Timur.
Justru disinilah dia mulai megnerti makna hidup yang sebenarnya. Life
begin at Pondok Madani. Di hari kedatangan mereka ke PM, Alif dan
ayahnya, dan juga peserta didik baru yang lain diajak untuk ikut
mengelilingi beberapa tempat di PM.
Di hari pertama pembelajaran, Alif diberikan sebuah kalimat, lebih dari
sebuah kumpulan kata-kata, yang nantinya akan menjadi kompas kehidupan
mereka. Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil!
Dia mengagumi kebudayaan di PM yang mengharuskan setiap penduduk PM
untuk berbicara hanya dengan menggunakan bahasa arab atau inggris, tidak
dengan bahasa yang lain. Apabila ketahuan melanggar, maka hukumannya
adalah menjadi jasus atau mata-mata. Siapa yang menjadi jasus,
mereka harus mencari pelanggar lain di PM, lalu dilaporkan kepada
mahkamah. Itu pula yang pernah dirasakan Alif ketika menjadi jasus.
Di PM, Alif bertemu dan berteman baik dengan Raja Lubis dari Medan,
Atang dari Bandung, Said Jufri dari Surabaya, Baso dari Gowa dan
Dulmajid dari Madura. Mereka berenam kerap berkumpul di menara sampign
masjid. Maka dari itu mereka sering disebut Sahibul Menara, orang yang
punya menara. Di bawah menara PM pula mereka berangan-angan akan suatu
benua impian, benua yang entah bagaimana caranya bisa mereka raih. Alif
melihat awan-awan itu bagaikan sebuah Benua Amerika, sedangkan Raja
melihatnya sebagai Benua Eropa, Atang melihatnya Benua Asia dan Baso
melihat itu semua sebagai Benua Afrika. Sedangkan Said dan Dulmajid
melihatnya sebagai negara Indonesia.
Meskipun bahagia berada di PM, Alif tidak bisa menyembunyikan rasa
irinya kepada Randai, sparring partner-nya sekaligus sahabatnya yang
berada di ITB. Bahkan Alif memiliki gagasan untuk keluar dari PM dan
mengikuti ujian persamaan agar dapat masuk ITB. Pikirannya makin kacau
ketika harus merelakan Baso untuk pulang kampung ke Gowa. Alif semakin
resah.
Mereka tidak tahu akan menjadi apa kelak. Yang mereka tahu hanyalah:
Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sungguh Tuhan Maha
Mendengar.
Man Shabara Zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan
penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di
depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tetapi ada yang lebih
besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya
dalam hidup.
Jumat, 22 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar